| Home | About Christianity | Resources | All Saints Community | Contact Us | All Saints Leadership Centre |
|
Kepustakaan Rohani Anglicanisme MP3 Sermons Bible Helps Theology Christian Living
Ibadah Anglikan Sejarah Gereja Anglikan Ajaran Anglikan Peraturan Anglikan |
1. PrakataDalam undang-undang dasar sebagian besar gereja Anglikan Buku Doa Umum (1662) mempunyai tempat penting untuk menggambarkan standar teologi dan ibadah Anglikan. Jadi Undang-Undang Dasar Diosis Singapura menyatakan bahwa Diosis menerima tafsiran ajaran dan kebiasaan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik (Am atau ajaran yang tepat), dan Rasuli yang ditunjukkan di dalam Buku Doa Umum dan 39 Pasal Agama. Ini berarti bahwa asas-asas teologi, ibadah, dan susunan gereja yang diwujudkan dalam Buku Doa adalah kewenangan untuk kaum Anglikan. Archbishop Cranmer dan yang lain yang membantu menghasilkan Buku Doa mengikuti sejumlah asas ketika mereka merevisi tata Ibadah untuk Gereja Inggris. 2. Asas-asas IbadahBeberapa asas ini adalah:
2.1 Alkitabiah dan Membangun
Ketika Cranmer dan yang lain merevisi liturgi, mereka ingin liturgi untuk membangun orang orang, untuk menjadi mudah dimengerti, dan menjadi alkitabiah. Di dalam Prakata Buku Doa Umum, mereka mengatakan, “Jadi, tujuan umum kami, dalam kegiatan ini, adalah tidak untuk memenuhi tuntutan kelompok ini atau kelompok itu, yang rewel, tetapi untuk melakukan yang, menurut pengertian terbaik kami, kami anggap paling mengarah kepada perdamaian dan persatuan di dalam Gereja, dan pemerolehan penghormatan, dan pembangkitan kesalehan dan pengabdian di ibadah umum Allah…”
Dalam Prakata Buku Doa Umum, berjudul “Tentang Ibadah Gereja”, para penulis mengingatkan kita bahwa liturgi-liturgi kuno mengatur bahwa “seluruh Alkitab (atau bagian terbesar) seharusnya dibaca satu kali setiap tahun. Maksud mereka adalah bahwa, dengan cara ini, pendeta, dan khususnya yang melayani dalam jemaat, akan (melalui pembacaan dan perenungian Firman Allah yang sering) didorong ke kesalehan diri, dan menjadi lebih sanggup mendorong orang lain melalui ajaran yang bermanfaat dan membantah yang melawan kebernaran; dan lebih jauh lagi bahwa orang-orang itu (dengan mendengarkan kitab suci setiap hari yang dibaca di gereja) akan terus menerus memperoleh manfaati yang semakin banyak mengenai pengetahuan tentang Allah, dan digelorakan dengan kasih agamaNya yang sesungguhnya.”
Buku Doa yang dihasilkan oleh para reformis, mengikuti prinsip-prinsip tersebut. Prakata berjudul “Tentang Ibadah Gereja” menyatakan bahwa Buku Doa Umum bermanfaat karena “tidak ada yang diangkat untuk dibaca, kecuali Firman Allah yang sangat murni, yaitu Kitab Suci, atau yang sesuai dengan itu, dan dalam bahasa dan aturan yang sedemikian rupa menjadi termudah dan sederhana untuk dimengerti baik oleh pembaca maupun pendengar. “
Ibadah-ibadah Gereja Anglikan sesuai dengan kitab suci. Prakata Buku Doa Umum mengatakan, “…tidak berisikan sesuatu yang bertentangan dengan Firman Allah, atau dengan ajaran sehat, atau yang tidak boleh digunakan dan ditaati oleh orang beriman dengan hati nurani yang baik…”
2.2 Reformis Buku Doa Umum menyatakan teologi reformis. Misalnya, Ibadah Perjamuan Kudus menyatakan kepercayaan bahwa tubuh Kristus dimakan dengan iman saja, karena tubuh itu tidak ada secara badaniah. Petunjuk (rubric) terakhir dalam Ibadah Perjamuan Kudus, mengatakan, “Karena roti dan anggur sakramen tetap masih dalam zat alamnya yang sungguhnya, dan oleh karena itu tidak boleh disembah; (karena itu akan menjadi pemujaan berhala yang dibenci oleh semua orang Kristen yang taat;) dan tubuh dan darah alamiah Juruselamat Kristus ada di surga, dan tidak di sini, hal ini melawan kebenaran tubuh alamiah Kristus yang hadir, pada waktu yang sama, di beberapa tempat."
Lihat juga Pasal 28 dari 39 pasal Agama. Teologi umum yang mendasari Buku Doa adalah teologi Reformasi, khususnya pembenaran karena iman. Pasal 11 mengatakan, "Kita dianggap benar di hadapan Allah, hanya oleh karena kebaikan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus saja, karena iman, dan tidak karena perbuatan-perbuatan kita, atau karena jasa kita. Jadi ajaran yang mengatakan bahwa kita dibenarkan karena iman saja, adalah ajaran sangat masuk akal, dan penuh penghiburan, sebagaimana dinyatakan lebih lengkap dalam Khotbah (Homily) Pembenaran."
2.3 Bahasa Umum
Ibadah gereja harus dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh orang biasa. Akan tetapi pada masa Reformasi di Inggris ibadah gereja tidak dalam bahasa Inggris. Prakata “Tentang Ibadah Gereja” mengatakan, “Dan juga, walaupun Paulus ingin bahasa yang digunakan kepada orang dalam gereja dapat mereka mengerti, dan berguna dengan mendengarkan hal yang sama, ibadah di gereja Inggris selama bertahun-tahun dibacakan kepada orang dalam bahasa Latin, yang tidak mereka mengerti; sehingga mereka mendengar dengan telinga mereka saja, sementara hati, roh dan akal mereka tidak dibangun oleh itu.”
Prakata terus mengatakan bahwa ibadah seharusnya “dalam bahasa dan aturan yang sedemikian rupa menjadi termudah dan sederhana untuk dimengerti baik oleh pembaca maupun pendengar.”
Pasal 24 mengatakan, "Jelaslah bertentangan dengan Firman Allah dan dengan kebiasaan gereja purbakala untuk melakukan doa umum di gereja, atau melayani sakramen, di dalam bahasa yang tidak dimengerti orang. "
2.4 Doa Umum Ibadah gereja adalah ibadah umum yang mengikutsertakan seluruh gereja. Sebulum Reformasibanyak bentuk ibadah yang berbeda dipakai di tempat yang berbeda. “Tentang Ibadah Gereja” mengatakan, “Mengingat sampai kini adalah perbedaan besar dalam berkata dan bernyanyi di gereja-gereja dalam kerajaan ini; beberapa mengikuti Pemakaian Salisbury, beberapa Pemakaian Hereford, …; mulai sekarang seluruh kerajaan akan mempunyai satu Pemakaian saja.”
Oleh karena itu, sampai abad ke-20, semua orang Anglikan, di setiap tempat di seluruh dunia menggunakan liturgi yang sama. Ibadah-ibadah dimaksudkan untuk doa umum untuk seluruh kaum bersama. Doa-doa dalam ibadah adalah doa yang semua orang dapat mengerti dan dapat mengAminkan. Doa-doa itu adalah doa seluruh gereja, bukan doa pribadi seseorang. 2.5 Oleh Kewenangan Ibadah gereja bukan tanggung jawab orang perorangan. Melainkan mereka yang berwenang di gereja seharusnya memutuskan apa yang sesuai untuk ibadah. Dengan demikian kebenaran ajaran dapat dilindungi. Bagian yang disebut “Tentang Upacara” di Buku Doa Umum mengatakan, “…tidak seorangpun seharusnya bertanggung jawab atas, atau berpikir untuk mengangkat atau mengubah Ibadah umum apa saja di Gereja Kristus, kecuali dia memang diangkat menurut hukum dan diberi kewenangan untuk melakukannya.”
2.6 Upacara yang Tidak Bisu atau Gelap Kaum reformis membuang dari ibadah gereja upacara yang “gelap”, yaitu yang mengajarkan hal-hal yang salah. Mereka juga membuang upacara yang “bisu”, yaitu yang tidak mengajarkan apa-apa, atau terlalu sulit untuk dimengerti. “Tentang Upacara” mengatakan bahwa ibadah Buku Doa adalah “upacara yang tidak gelap ataupun bisu, tetapi diajukan, agar semuanya dapat mengerti apa yang dimaksudkan, dan apa kegunaannya."
2.7 Membaca Alkitab
Kaum reformis ingin Alkitab dibaca di gereja, jadi mereka merencanakan jadwal bacaan supaya selama Ibadah Pagi dan Ibadah Sore seluruh Perjanjian Lama dibaca dalam satu tahun dan perjanjian Baru dua kali dalam satu tahun. Mereka juga merancang bacaan sedemikian rupa sehingga buku Alkitab dapat dibaca terus sampai habis tanpa ada gangguan. Sebelum masa itu bacaan Alkitab dalam gereja tidak tetap (seperti beberapa lektionar modern). “Tentang Ibadah Gereja” mengatakan, “… pada umumnya ketika buku Alkitab apa pun dimulai, sesudah tiga atau empat bab dibaca, semua sisanya tidak dibaca. Dan cara itu buku Yesaya dimulai pada masa Advent, dan buku Kejadian dimulai hari Minggu Septuagesima; tetapi mereka hanya dimulai, dan tidak pernah dibaca terus sampai habis; dan seperti ini juga buku lain Kitab Suci dipakai.”
“Tentang Ibadah Gereja” terus menjelaskan apa yang Buku Doa Baru beri, “Dan … di sini ada jadwal … yang sederhana dan mudah dimengerti; dalam jadwal ini bacaan Kitab Suci disusun sedemikian rupa sehingga semuanya dapat dilakukan dalam urutan, tanpa memisahkan satu bagian dari yang lain.”
2.8 Sesuai bagi setiap Negeri Pasal 34 mengatakan, "Tradisi dan upacara tidak perlu sama di setiap tempat. Mereka memang selalu berbeda. Mereka boleh diubah untuk negeri, zaman, budaya yang tidak sama, asal tidak ada penetapan yang melawan Firman Allah. … Setiap gereja nasional berwewenang untuk mengangkat, mengubah, dan menghapus upacara gereja yang ditetapkan oleh manusia saja, sehingga semuanya menghasilkan perbaikan."
Prakata yang disebut “Tentang Upacara-upacara” menyatakan bahwa, “… kita menganggap hal ini sesuai bahwa setiap negeri seharusnya menggunakan upacara-upacara yang mereka anggap terbaik untuk memajukan kehormatan dan kemuliaan Allah, dan untuk membawa rakyat ke kehidupan yang sempurna dan saleh, tanpa kesalahan atau takhayul; dan juga bahwa setiap negeri seharusnya membuang hal lain yang sewaktu-waktu mereka merasa sangat disalahgunakan, seperti sering terjadi dengan peraturan manusia, di cara berbeda di negeri berbeda.”
3. Buku Doa UmumKaum Reformis mengumpulkan semua upacara gereja dalam satu buku supaya semua dapat menggunakannya di setiap tempat. Mereka tidak memperbolehkan ibadah lain digunakan. Satu alasan mereka melakukannya adalah untuk memelihara kemurnian ajaran dan kebiasaan. Buku Doa juga menjadi sarana penting untuk mengajarkan ajaran benar kepada orang-orang. Salah satu alasan Gereja Anglikan kuat secara teologi adalah karena mempunyai liturgi yang kuat secara teologi. Gereja Anglikan juga mempunyai liturgi yang sudah dipelajari semua orang Anglikan. Jadi gereja mempunyai tradisi teologi yang sama. Ketika Buku Doa pertama-tama diterbitkan kebanyakan orang tidak dapat membaca, dan tidak mempunyai bukunya seandainya mereka dapat membaca. Jadi mereka mendengar dan mengingat-ingat kata-katanya. 3.1 Revisi Modern Liturgi
Liturgi adalah kata-kata dan upacara-upacara yang digunakan gereja dalam mengadakan ibadahnya. Selama 40 tahun terakhir ada banyak revisi atas liturgi-liturgi ini. Beberapa perubahan ini adalah baik. Kini ada banyak versi dalam bahasa Inggris misalnya Alternative Services Book (1980) dan Book of Common Worship (2000) yang diterbitkan oleh Gereja Inggris, atau An Australian Prayer Book (1978), dan A Prayer Book for Australia (1996). Setiap gereja nasional merevisi liturginya, dan di setiap diosis, Bishop menguasakan liturgi untuk diosis itu. 3.2 Struktur Ibadah-ibadah dari Buku Doa UmumKebanyakan ibadah dalam Buku Doa Umum adalah revisi ibadah-ibadah sebelumnya. Ketika Thomas Cranmer dan orang lain merevisi ibadah tersebut, mereka mengurutkannya menurut paham teologis tentang sifat dan tujuan ibadah itu. Misalnya, Ibadah Penguburan, pada tahun 1552, menghilangkan banyak hal dari ibadah sebelumnya (termasuk Misa) dan membuat banyak perubahan terhadap urutan. Alasan untuk perubahan ini adalah supaya fokus tidak lagi pada orang mati, dan jalannya melalui Api Penyucian. Malahan ibadah dimaksudkan untuk memberi hiburan kepada orang yang hidup. Ibadah tersebut adalah pernyataan yang sangat bagus tentang kepercayaan akan kebangkitan, dan bahwa orang mati langsung ke dalam hadirat Tuhan. Ibadah itu mengungkapkan keselamatan karena kasih karunia melalui kematian Yesus, dan penolakan ide Api Penyucian. Ibadah Perjamuan Kudus Banyak perubahan pada ibadah Misa yang dahulu dilakukan oleh kaum reformis. Buku Doa tahun 1552 melakukan perubahan lagi terhadap Buku Doa 1549, dan menjadi itu setuju dengan teologi Reformasi. Ketika Elizabeth naik takhta pada tahun 1559, dia mengembalikan Buku 1552 dengan hanya satu perubahan ke Ibadah Perjamuan Kudus, yaitu menumbahkan kata pembagian dari Buku 1549 ke kata pembagian dari Buku 1552. Ibadah 1662 adalah sama dengan 1552 dengan beberapa perubahan kecil. Ibadah Perjamuan Kudus di Buku Doa Umum diatur dengan hati-hati. Ibadah ini bermula dari Doa Bapa Kami seperti Ibadah sebelumnya. Ibadah ini menghilangkan persiapan pribadi imam, dan memanggil segera jemaat untuk meminta hati mereka dibersihkan, menurut kata-kata dalam doa pembukaan. Perintah Allah dibaca untuk membantu pembersihan ini, dan diikuti oleh doa untuk Raja. Bagian persiapan ini kemudian diikuti Pelayanan Firman. Doa untuk Hari itu dikatakan, dan bacaan dari Surat-Surat dan Injil dibaca, diikuti Pengakuan Iman Nicea. Atas dasar pernyataan kebenaran alkitabiah ini, khotbah mengikuti. Sesudah khotbah, orang-orang didorong untuk memberi kepada orang miskin dan mempersembahkan pemberian lain juga. Sesudah Persembahan ini, pelayan menempatkan roti dan anggur di atas Meja Kudus dan berdoa untuk gereja di seluruh dunia. Perjamuan didahului oleh beberapa nasihat. Dua di antaranya adalah untuk mendorong orang menyiapkan diri menerima Perjamuan Kudus pada hari yang akan datang. Ketiga mendorong yang hadir memeriksa diri, dan datang untuk menerima sakramen dengan pertobatan dan iman. Kemudian orang-orang bergabung dalam pengakuan dosa, dan pelayan mengatakan absolusi kepada mereka, diikuti beberapa kalimat dari Kitab Suci yang dimaksudkan untuk memberikan mereka kepastian pengampunan. Pengakuan dosa ditempatkan sesudah jemaat mendengar Kitab Suci dan sebelum mereka datang untuk menerima sakramen. Orang-orang sudah menyiapkan diri melalui perperiksaan dan pengakuan, dan sudah mendengar bahwa mereka diampuni, sehingga pelayan memimpin mereka dalam doa pujian dan syukur yang agung.
Doa ini diikuti oleh Doa Perjamuan. Doa ini menyatakan bahwa kematian Kristus adalah satu-satunya pengorbanan yang sempurna untuk dosa seluruh dunia; bahwa Kristus memerintahkan kita untuk terus mengingat kematianNya; dan meminta bahwa sementara kita makan roti dan minum anggur, dalam peringatan kematian dan penderitaanNya, kita dapat mengambil bagian dalam tubuh dan darahNya. Sesudah Doa Perjamuan pelayan, dan kemudian orang-orang, menerima roti da anggur. Ibadah berakhir dengan Doa Bapa Kami, doa syukuran, lagu pujian yang dikenal sebagai Gloria, dan akhirnya pemberkatan. Kepentingan Kitab Suci: Ibadah ini bergantung banyak pada Kitab Suci. Awal ibadah ini menyiapkan orang untuk mendengarkan Kitab Suci dan menerima sakramen. Sesudah mendengar Firman Allah mereka siap mengakui dosa sebagai persiapan untuk menerima roti dan anggur. Roti dan anggur diterima sebagai tanda-tanda yang membawa janji pengampunan, karena tanda itu mengingatkan kita pada kematian Kristus bagi kita. Ibadah berakhir dengan pujian dan syukur agung, karena, pada saat itu, Firman Allah yang tertulis, diucapkan, dan kelihatan (sakramental) sudah mendorong hati kita pada pujian itu. Berbeda dengan hal itu, banyak ibadah modern mencoba mendorong hati kita tanpa mengingatkan kita tentang dasar pujian, yaitu kasih karunia Allah yang diperlihatkan dalam Kristus. Ibadah Doa Pagi dan Doa Malam
Ibadah Doa Pagi dan Doa Malam disadur oleh kaum Reformis dari beberapa ibadah yang digunakan para imam dan biarawan pada Abad Pertengahan. Doa Pagi menggantikan Matins (yang diucapkan sebelum matahari terbit), Lauds (pada matahari terbit), dan Prime (pada sekitar pk. 6 pagi). Ibadah Doa Pagi mulai dengan nasihat untuk mengakui dosa kita, yang diikuti oleh doa Absolusi. Nasihat itu termasuk ringkasan yang jelas tentang tujuan-tujuan berkumpul sebagai umat Allah, yaitu, untuk bersyukur atas manfaat-manfaat yang kita terima dari Allah; untuk menyatakan pujianNya; untuk mendengarkan FirmanNya yang kudus; dan untuk meminta hal –hal yang kita perlukan. Doa Bapa Kami diikuti oleh waktu pujian dengan menggunakan Mazmur 95 yang diikuti oleh bacaan mazmur lain menurut lektionar. Bacaan dari Perjanjian Lama juga diikuti oleh balasan pujian yang menggunakan kata-kata nyanyian kuno yang disebut Te Deum, atau nyanyian lain dari Apokrif. Bacaan dari Perjanjian Baru juga diikuti ole pujian yang menggunakan Nyanyian Zekariah (Luk 1.68), atau Mazmur 100. Pelayanan Firman ini diakhiri dengan mengatakan Pengakuan Iman Rasuli. Penggunaan kedua Doa Bapa Kami memperkenalkan doa-doa. Doa pertama adalah kumpulan doa dengan balasan dimana pelayan mengatakan satu kalimat dan jemaat membalas dengan kalimat lain. Dengan cara ini orang-orang dapat ikut serta walaupun mereka tidak mempunyai Buku Doa untuk dibaca. Struktur Ibadah Doa Malam serupa dengan Ibadah Doa Pagi. Tidak ada Khotbah pada Doa Pagi dan Doa Malam karena ibadah itu adalah ibadah harian. Bacaan harian Kitab Suci dimaksudkan sebagai cara orang-orang dibangun. Pada hari Minggu tampaknya bahwa Perjamuan Kudus dimaksudkan untuk mengikuti Doa Ibadah Pagi, dan pada ibadah ini khotbah diperlukan. Kalau tidak ada Perjamuan, ibadah ini diakhiri pada doa untuk gereja. Doa Syafaat di dalam Buku Doa Umum Doa-doa pada Ibadah Doa Pagi dan Doa Malam termasuk doa-doa untuk pemerintah dan pemimpin gereja. Juga ada titik berat kuat tentang meminta damai, perlindungan, dan pertahanan melawan yang menentang kita kepada Allah. Mungkin titik berat itu mencerminkan masa-masa berbahaya. Doa untuk Gereja, pada Perjamuan Kudus, termasuk doa untuk kesatuan dan persetujuan dalam kebenaran Firman Suci Allah; dan bahwa pemerintah akan menjalankan keadilan dengan benar dan tidak memihak; bahwa pemimpin gereja akan mengajarkan Firman Allah yang benar dan hidup, serta melayani sakramen-sakramen dengan benar; bahwa jemaat akan mendengarkan dan menerima Firman Allah; dan untuk orang yang memperlukan atau sakit. Doa berakhir dengan mensyukuri Allah untuk orang yang meninggal dan meminta kasih karunia untuk mengikuti contoh yang baik dan dengan demikian, beserta mereka, kita dapat mengambil bagian di dalam kerajaan Allah. 4. Kalender dan Lektionar Gereja
Kalender gereja mendaftar hari penting dalam tahun gereja. Gereja Anglikan merayakan hari-hari khusus misalnya Hari Natal dan hari Paskah serta hari lain yang terkait dengan pelayanan Yesus. Struktur tahun gereja kira-kira mengikuti hidup dan pelayanan Yesus. Advent – Hari Natal – Hari Raya Epifani – Masa Pra Paskah (Lent) – Hari Minggu Palem – Jumat Agung– Paskah – Hari Kenaikan – Hari Raya Pentakosta – dan kemudian Hari Minggu Trinitas. Hari Santo juga dirayakan. Pada waktu Reformasi banyak hari santo dikeluarkan dari Kalendar. Yang tinggal termasuk orang penting dari Alkitab, misalnya Rasul-rasul, beberapa Bapa-bapa gereja purba, beberapa santo Inggris, dan lain lain. Dalam kalendar modern kita orang Kristen terkenal lain juga diingat. Lektionar adalah kalendar bacaan untuk semua ibadah gereja selama setahun. Lektionar yang digunakan di Diosis Singapura berdasarkan Lektionar Bersama yang digunakan Gereja Katolik Roma, Luteran, Anglikan, dan banyak gereja lain. Lektionar memberikan bacaan untuk tiga kebaktian pada hari Minggu dan dua kebaktian pada setiap hari lainnya. Ini mengikuti siklus tiga tahunan, sehingga diperlukan tiga tahun untuk membaca semua bacaan 5. Warna-warna Liturgi dan JubahMusim utama dalam tahun gereja dirayakan di banyak gereja Anglikan dengan pengunaan jubah dan penutup meja Perjamuan yang berwarna. Advent – ungu Hari Natal – putih Hari Raya Epifani – putih Masa Pra Paskah (Lent) – ungu Hari Minggu Palem – merah Jumat Agung– merah Paskah – putih Hari Kenaikan – putih Hari Raya Pentakosta – merah Hari Minggu Trinitas. – putih Musim Trinitas - hijau
Para pelayan gereja memakai jubah berbeda. Pakaian tradisional sejak zaman Reformasi adalah surplice (jubah putih denganlengan baju lebar). Kini banyak pendeta memakai alb atau cassalb (jubah putih panjang dengan lengan baju biasa). Pada Ibadah Perjamuan Kudus mereka memakai syal berwarna juga. Warna itu sesuai dengan musimnya. Pada ibadah lain ada yang memakai stola hitam dengan surplice.
Lihat juga:
Hak Cipta © Dale Appleby 2005. All Saints Anglican Church Jakarta
Terima kasih kepada Ibu Profesor Lillian Tedjasudhana, Dr Myrna Laksman-Huntley, dan Miryam Selanno SS, atas bantuan besar tentang terjemahan dan pengeditan.
Go to All Saints Home page if you arrived here from an external link
|